Pages

Bali Google Search

Custom Search

Monday, December 7, 2009

PENJAGAL HEWAN JADI PEMANGKU

Pamangku Juru Jagal?
Mungkin timbul pertanyaan demikin dibenak kita, berikut penuturan Bapak Nyoman Rame Jl. Raya Besakih Klungkung.
Sejak tamat SMA tahun 1985 saya bekerja di rumah pemotongan hewan Sanggaran, Denpasar Selatan. Kasarnya, saya tukang jagal. Tapi, saya dibuat pangling, karena sebulan lalu dalam sebuah acara nyanjan , saya ditunjuk jadi pamangku pura dadia , apa boleh buat saya nyaris pingsan dibuatnya. Memang bukan keluarga besar yang menunjuk, tapi saya tidak bisa mengelak.
Lewat Jero Tapakan yang didatangkan dalam prosesi nyanjan itu saya nyaris bertengkar. Kenapa saya yang tukang jagal dipilih jadi pamangku, kenapa tidak keluarga saya yang lain, yang lebih bersih, tekun, dan rajin belajar agama?
Aduh, sekarang saya jadi bingung, roh leluhur saya “mengancam” hendak mengambil nyawa saya jika tidak ngiring . Di sisi lain saya dihantui pekerjaan sebagai tukang sembelih hewan, ya karena memang dari sana saya memperoleh kehidupan. Saya sadar, pekerjaan tukang jagal terang teramat hina. Jikapun saya mau jadi pamangku, apakah pekerjaan ini harus saya tinggalkan?
Lalu, di mana saya mencari penghidupan, sementara jadi pamangku membatasi gerak aktivitas saya. Bayangkan: jagal jadi pamangku. Nah, sudi kiranya Bapak membukakan saya jalan, sementara anak-anak sedang butuh biaya. Menjadi pamangku jelas berseberangan dengan hati nurani saya. Lalu, apakah pekerjaan yang kita tekuni senantiasa membawa dampak bagi kesucian seseorang, dengan demikian ia dijauhi Tuhan. Benarkah?

Jawab:
Jika kita mencoba memetik intisari pertanyaan Sdr. Nyoman Rame ini akan menjadi masalah kemanusiaan universal, yang akan diangkat sebagai pertanyaan oleh semua orang di muka Bumi. Betapa tidak? Di dunia ini banyak sekali orang menginginkan sesuatu, seperti menginginkan kekayaan, kekuasaan, kemasyhuran, dan seterusnya, tetapi keinginan tersebut tidak juga didapatkan meskipun mereka telah berusaha keras mendapatkan hal itu. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang tidak menginginkan sesuatu, tetapi dia justru mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkannya itu.
Banyak orang menginginkan pekerjaan yang mendatangkan banyak uang, dan sebaliknya, tidak sedikit orang tidak menginginkan pekerjaan yang tidak memberikan uang berlimpah. Apabila kita mencoba mengukur realitas ini dari ajaran Sang Buddha, inilah yang disebut duhkha (penderitaan). Disatukan dengan sesuatu yang kita benci adalah duhkha . Dipisahkan dengan sesuatu yang kita cintai adalah duhkha . Mendapatkan sesuatu yang tidak kita inginkan adalah duhkha , dan tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan adalah duhkha.
Tetapi, jangan khawatir, duhkha ini bisa dilenyapkan, seperti yang telah dilakoni Sang Buddha melalui pemutaran roda dharma ( dharmacakrapravartana ) yang diwedarkan dalam kotbah pertama di Taman Rusa, kota Benares , India . Jalan keluarnya adalah dengan melenyapkan keinginan. Mengapa Sdr. Rame sekarang mengalami kebimbangan? Tidak lain karena hasrat, keinginan atau tanha . Lenyapkanlah keinginan ini.
Memang, tidak ada yang salah dengan keinginan. Masalahnya, manakala keinginan itu tidak terpenuhi, maka terjadilah duhkha . Karena itu, seharusnya orang jangan menginginkan sesuatu, dan juga jangan tidak menginginkan sesuatu. Bekerjalah di dalam tidak bekerja, dan tidak bekerja di dalam bekerja. Ini adalah kata-kata Mahabharata, yang lebih verbal diuraikan lagi dalam Bhagavad-gita : karmany eva dikaraste , ‘bekerjalah tanpa mengharapkan hasil'.
Lebih daripada itu, mengapa keinginan mendatangkan penderitaan ini menyangkut apa yang diinginkan. Dewasa ini, sangat sedikit orang bercita-cita menjadi orang suci semacam pamangku. Kalau menjadi pejabat dengan gaji besar, pasti banyak yang menginginkan. Jadi, keinginan itu pada akhirnya akan selalu mendatangkan penderitaan, karena keinginan itu selalau diarahkan untuk menguasai dunia material, dan salah satu ciri utama dunia material ini adalah duhkhalayam : penuh penderitaan.
Dalam konteks ini, Sdr. Nyoman Rame harus mensyukuri panggilan ngiring untuk menjadi pamangku di Pura Dadia. Memang, setelah menjadi pamangku bukan berarti Anda bebas dari penderitaan. Pendeitaan akan tetap ada. Tetapi dalam kedudukan sebagai pamangku, penderitaan itu akan menjadi sesuatu yang remeh di hadapan Anda. Menjadi pamangku berarti menjadi medium atas karunia Tuhan, sehingga pamangku setiap saat dituntut bersih lahir dan batin. Orang yang selalu bersih dan tekun, sebenarnya tidak ada masalah penderitaan baginya.
Menjadi pamangku adalah panggilan Dharma. Ini adalah kesempatan mengabdi kepada umat manusia, kesempatan emas untuk membebaskan diri dari keterikatan-keterikatan dunia material, dan sekaligus kesempatan untuk mewujudkan tujuan agama: moksartham jagaddhitaya ca iti dharma. Secara ideal, kalangan agamawan sering agak berseloroh mengatakan, bahwa bagi orang suci, pintu surga sudah terbuka. Karena itu, tidak ada suatu karunia yang lebih tinggi, selain karunia “dipaksa” melakoni pengabdian suci sebagai seorang pamangku.
Setelah menjadi pamangku, apakah harus meninggalkan pekerjaan sebagai jagal, dan bagaimana halnya dengan nafkah yang harus didapatkan untuk menghidupi keluarga? Kebimbangan ini menunjukkan bahwa Sdr. Nyoman Rame belum memahami siapakah Tuhan. Tuhan adalah Mahakaya, dan pemilik segala-sesuatu. Dalam Bhagavad-gita 10.8 disebutkan, “Tuhan adalah sumber segala dunia rohani dan segala dunia material. Segala sesuatu berasal dari Tuhan (aham sarvasya prabhavo mattah sarvam pravartate).” Dalam Isa Upanisad keterangan yang sama juga dijelaskan. Tuhan adalah sumber segala makhluk yang bergerak maupun yang tidak bergerak (isavasyam idham sarvam).
Kalau Tuhan sudah memilih Anda mengabdi di jalan dharma (melalui upacara nyanjan ), pasti Tuhan telah memberi solusi dan jalan keluar terhadap berbagai masalah yang akan Anda hadapi sebagai konsekuensi atas pilihan terhadap pengabdian itu. Jangan pernah mengerdilkan keagungan Tuhan. Ingat, Tuhan adalah Mahakaya. Meskipun demikian, hendaknya seseorang jangan mendekati Tuhan hanya untuk mendapatkan kekayaan.
Tentang pekerjaan sebagai jagal, apakah harus ditinggalkan? Sebelum sampai pada jawaban atas pertanyaan ini, kiranya penting dijelaskan bahwa manusia hanya mengetahui kehidupannya pada babak kehidupan saat ini. Sedangkan Tuhan mengetahui masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Inilah perbedaan antara manusia dengan Tuhan.
Jadi, pekerjaan sebagai jagal yang dilakoni Sdr. Rame hanyalah pekerjaan yang dilakoni pada kehidupan ini. Saudara Rame tentu tidak tahu pekerjaan yang Saudara lakoni pada kehidupan yang lalu, demikian juga pekerjaan yang Saudara akan lakoni pada kehidupan nanti. Jadi, pilihan yang dijatuhkan oleh leluhur Anda untuk ngiring sebagai pamangku, harus dihubungkan dengan pekerjaan Anda di masa lalu. Mungkin saja, atas jasa pekerjaan yang Anda lakoni pada kehidupan di masa lalu mengharuskan Anda menjadi pamangku pada kehidupan sekarang.
Jika jawaban tersebut belum memuaskan Sdr. Rame, dan juga mungkin tidak memuaskan sebagian besar Pembaca, karena tidak realistik atau masih mengawang-awang ke masa lalu, maka bersama ini saya tunjukkan karunia Tuhan. Tuhan bisa mengubah batu menjadi emas, tentu saja Tuhan juga bisa mengubah seorang jagal menjadi seorang pendeta. Pernahkah Anda mendengar cerita seorang Ratnakara? Ia seorang penjahat yang melakukan berbagai jenis kejahatan. Suatu hari ia merampok seorang rsi. Rsi ini bertanya kepadanya, apakah anak-anaknya dan saudara-saudaranya mau menerima dosa-dosa akibat kejahatan yang dilakukannya?
Setelah kembali dari rumahnya untuk menanyakan masalah itu (yang ditanyakan rsi tadi) kepada anak-anak dan saudaranya, Ratnakara kembali kepada rsi itu dan menyampaikan jawaban anak-anak dan saudaranya, bahwa mereka tidak bersedia menerima dosa akibat kejahatan yang dilakukan Ratnakara. Sang Rsi lalu menasihati agar meninggalkan pekerjaan sebagai perampok. Sejak itu, Ratnakara bertobat dan melakukan pertapaan keras. Ratnakara, yang adalah seorang penjahat, kemudian dikenal sebagai seorang penyusun Ramayana dan dikenal dengan nama Valmiki.
Jika, dalam pertanyaan tadi, Sdr. Rame menganggap pekerjaan jagal adalah pekerjaan hina, maka pekerjaan itu memang segera harus ditinggalkan. Persoalannya, bukan karena Anda menjadi pamangku lalu pekerjaan jagal itu harus ditinggalkan, melainkan karena Anda sendiri menganggap pekerjaan itu hina. Bagaimana mungkin, Anda sadar suatu pekerjaan itu hina, lalu Anda tetap lakoni pekerjaan itu semata-mata demi uang. Model seperti ini terlalu jamak dalam masyarakat kita dewasa ini. Banyak orang melakoni berbagai jenis pekerjaan hina hanya demi uang. Di satu sisi, sraddha atau kepercayaan mereka terhadap Tuhan lemah. Mereka tidak pernah yakin, Tuhan adalah mahakaya. Di sisi lain, ini suatu bukti betapa kuat pragmatisme bercokol dalam relung kalbu kita.
Dalam tradisi Bali , menjadi pamangku adalah pinandita dengan kedudukan ekajati . Sebagai seorang pamangku, ia mulai melakukan tapa, brata, yoga dan samadhi. Karena itu, ia harus menghindari pembunuhan, apalagi menjadi seorang jagal. Dalam banyak kasus, seperti dalam upacara bhuta yajna , seorang pamangku bahkan dilarang langsung berperan dalam panyamblehan (pembunuhan binatang yang dipersembahkan kepada bhuta ).
Satu hal yang harus dipahami dari berbagai uraian di depan ialah: karunia Tuhan tidak selalu dalam wujud harta-benda berlimpah, rumah mewah, jabatan tinggi, dan keturunan manis-manis. Ada kalanya Ia mengambil semua pekerjaan dan harta benda kita sehingga kita menjadi benar-benar miskin. Orang miskin sangat terikat dengan Tuhan. Karena itu, Dewi Kunti berdoa dalam Bhagavata Purana 1.8.27 : namo ‘kincana-vittaya, “Hamba bersujud kepada Anda, yang menjadi milik orang yang miskin secara material”.

I Ketut Widnya

1 comment:

  1. swadarmanya jagal ya mencabut nyawa ubuan tunu.. untuk konsumsi masyarakat.. tidak ada yg salah..

    ReplyDelete